Hunting Foto di Kampoeng Brick Kepanjen

brick cafe

Beberapa hari yang lalu, saya penasaran dengan postingan teman di Kepanjen tentang salah satu cafe yang mengusung nuansa tempo dulu. Apalagi cafe ini tepatnya berada di Desa Ketanen, Kepanjen, dekat dengan rumah teman saya itu. Sekalian deh saya berencana main ke tempatnya. Nama cafenya adalah Kampoeng Brick.

Dengan mengendarai motor, saya sempatkan ke sana bersama suami dan anak. Jelas saja, karena saat itu saya belum punya mobil. Seandainya  punya Toyota Agya, pasti akan langsung ke sana dengan mengajak seluruh anggota keluarga. Pasti keponakan dan mertua senang jika diajak ke sana. Apalagi desain Agya yang minimalis bakal langsung melintas dengan mulus, tanpa takut terjebak macet.

agya

Di sana, memang saya dapati suasana khas zaman dulu. Mulai dari aksesoris sepeda onthel, televisi hitam putih, serta bermacam mainan tradisional. Namun, konsepnya sangat modern. Ada panggung untuk live musik dan ada layar besar untuk nobar.

Berhubung ini adalah sebuah cafe, maka tak sempurna rasanya jika tidak sekalian review makanannya. Kebetulan saya memesan 2 nasi goreng, satu nasi goreng pesanan sudah saya katakan tidak ada cabe sama sekali. Namun ternyata masih terasa pedas untuk lidah si kecil, pun ke dua nasi tersebut rasanya berbeda. Satunya sangat lembek.

Untuk makanan yang lain, entahkah, saya belum merasakannya. Untungnya semua rasa tersebut diobati oleh milkshake dan kopi yang lumayan enak. Pun suasana yang cukup menentramkan hati, betah deh lama-lama di sana.

brick cafe 2

Sepertinya kalau ke sini lagi, pesannya minuman saja deh. Hehehe. Tempat ini bagus buat hunting foto, seperti Ria Djenaka di Malang. Sayangnya saya hanya memakai kamera handphone, jadi foto tempatnya kurang jelas. Sebenarnya saya punya kamera prosumer hadiah dari suami namun karena tergesa-gesa saya lupa membawanya.

Kehadiran kamera memang sangat penting untuk menunjang hobby saya di dunia fotografi. Namun kita memang tidak boleh tergantung pada satu senjata saja, jika tak ada kamera digital maka kamera handphone pun tak masalah.

Yang penting dalam fotografi itu adalah memotret dengan hati. Potretlah dengan hati maka hasilnya akan memuaskan.

Iklan

Sukses Migrasi

Ini adalah blog baru saya, hasil migrasi dari Multiply.

Alhamdulillah semua tulisan dan komentar-komentarnya di dalamnya bisa saya pindahkan ke sini.

Semoga tali silaturrahmi dengan teman-teman MPers bisa tetap terjalin, aamiin.

 

Salam

 

Ivonie Zahra

Foto Kopdar Mp Pertama

Bismillah….

Akhir tahun konten blog dll di MP bakalan dihapus, tentu rasanya gak ikhlas banget. tapi mau gimana lagi kalau keputusan itu sudah harga mati meski sudah berusaha keras segala cara supaya si Stef mengurungkan niatnya yang geblek itu

Hari ini nyoba save manual foto-foto lama di MP, secara di komputer sudah gak punya file-nya. Dulu tersimpan di laptop lama dan sekarang hilang di Yogya, dihilangkan mantan temen kerja yang sy percaya buat dititipin

Dan pas proses save foto lama itu, kembali diingatkan pada kenangan hampir 5 tahun lalu. Saat pertamakaliknya kopdar alias kopi darat dengan temen yang kenal di MP


Dari kanan ke kiri: Anjar (posenya bikin ngekek), Mas Hanif, Mbak Desi, saya dan Mbak Novi. Di Tugu Yogyakarta.

Ini foto kopdar pertama saya, mana foto kalian teman?

Menyambut Ramadhan

Bismillah…

Tidak terasa sudah tiba Bulan Ramadhan lagi.
Biasanya penyambutannya beragam cerita, termasuk saya.
Cerita ramadhan tahun lalu dngn sekarang pasti berbeda.
Tahun lalu sebelum ramadhan krg 10 hari, bapak sy meninggal dunia.
Dan artinya ramadhan tahun ini untuk kedua kalinya tanpa beliau.
Kalau tahun lalu masih taraf pendekatan dngn calon suami. Tahun ini sudah jd suami istri dan untk pertma kalinya menjalani puasa bersama. Bonusnya sekarang kita menyambut Ramadhan jd bertiga dngn baby Enju dlm kandungan.
Katanya untk perempuan hamil diperbolehkan untk tidak berpuasa ya?
Tapi sy masih nego sm suami pengen puasa, biar pun setengah hari 😀
Mengingat selama ini jg udah dilatih dngn sarapn pasti diatas jm 8 hehe.

Untuk menyambut Ramadhan kali ini blm ada persiapan apa-apa kecuali mental dan fisik.

Mohon maaf kalau sy blm bisa berkunjung ke postingan temen2, edisi pemulihan di Trimester 1.

Mohon maaf pula apabila sy punya bnyak kesalahan sengaja maupun tidak, entah dlm interaksi di mp maupun postingan sy. Mohon maaf lahir batin dan Selamat Menyambut Ramadhan serta Berpuasa bagi yang menjalankan, amin.

Marhaban Ya Ramadhan ^___^

Btw, Barakallahu dan selamat buat Ely (Elywidya) atas kehamilannya. Ntar anak kita sepantaran lg ya Ly 🙂

[ Aku dan Kain Gendongan ] Ketika Si Perempuan Berkerudung Biru Menggendong

Bercerita mengenai kain gendongan batik, mengingatkan saya pada sebuah foto usang. Dimana emak sedang menggendong bayi dalam kain gendongan batiknya, sementara kakinya dibungkus sepatu boot karena banjir. Siapa bayi dalam gendongan itu? Dialah saya, begitu saya tanyakan pada emak.

Beranjak remaja, saya menyukai bayi dan anak-anak. Setiap ada kesempatan menjenguk tetangga maupun saudara yang habis melahirkan, bawaannya pengen bisa menggendong. Meski jujur dalam hati antara takut dan senang. Takutnya salah dalam posisi menggendong terus kalau sampai jatuh gimana? Senangnya, bisa mendekap bayi mungil tersebeut lebih dekat dengan saya. Meski bayi itu bukanlah anak kandung saya. Ya iyalah lha wong status saya masih remaja hehehe.

Nah dalam masa peralihan dari remaja menuju dewasa itu, saya merasa memiliki peningkatan keberanian untuk menggendong. Awalnya masih menggendong dengan tangan kosong karena waktu itu bagi saya lebih mudah. Akan tetapi makin lama kerasa pegalnya di tangan. Lupa tepatnya kapan, saya beranikan diri untuk menggendong Lia, anak angkat kakak saya. Menggendonganya pun sudah ada kemajuan dengan kain gendongan jarik. Saya bisa sendiri? Tentu saja tidak, saya masih dibantu ibunya cara memakai gendongan jarik. Bisa menggendong bayi atau balita dnegan gendongan jarik itu menyenagkan dan luar biasa bagi saya. Bisa mengajaknya jalan-jalan keluar kamar maupun sampai halaman rumah.
Besoknya saya minta untuk menggendong lagi, tapi kali ini saya sok pede mau usaha sendiri. Hasilnya? Lilitan gendongannya kurang kenceng dan gampang mlorot hehehe. Sampai-sampai saya harus megangin pantatnya biar gak makin mlorot :D. Namun sayangnya setelahnya itu saya tidak punya kesempatan untuk menggendong bayi maupun balita karena bekerja ke Hong Kong. Kebetulan juga job kerja saya di Hong Kong bukan momong bayi melainkan mengurus segala keperluan anak usia SD dan SMP.

Tahun 2010 saya baru kembali ke Indonesia untuk seterusnya. Pas pulang itu saya dapat kejutan, istri sepupu saya yang di Surabaya baru melahirkan. Senang pastinya karena ponakan nambah lagi. Dan punya kesempatan gendong bayi. Meski sempat ragu karena sudah lama tidak menggendong bayi, apalagi dengan gendongan jarik. Saya tidak langsung main nodong buat gendong bayinya. Saya mengamati kembali sambil belajar lagi. Nah kali ini kesulitannya nambah lagi, kalau dulu suka merosot kalau gendong, kini makin ribet karena saya sudah pakai jilbab lebar sepulang dari Hong Kong. Makin kebayang dech susahnya gendong. Tapi saya gak mau patah semangat dong.

Besoknya begitu ada kesempatan ngumpul keluarga besar pas lebaran, akhirnya saya beranikan buat gendong Rizky ponakan dari Surabaya itu. Oh iya, saya baru menyadari sekarang, jangan dikira menggendong bayi dengan gendongan jarik itu tidak pegal. Justru pegalnya pindah ke pundak, tepatnya bagian gulungan jarik yang menempel itu. Dan saya dapat ide untuk mensiasatinya, bagian kain yang menempel pundak kalau bisa jangan bentuknya digulung-gulung. Melainkan agak di lipat supaya gak bikin pegal kalau bayinya sudah tergendong. Terori itu cukup membantu saya berhasil menggendong Rizky lebih lama dan dia nyaman rupanya dalam gendongan saya hehehe. Dan anggapan pakai jilbab lebar ribet dalam menggendong bayi dengan gendongan jarik pun bubar jalan. Insya Allah kalau baby Enju nanti lahir sudah tidak bingung dan susah menggendonganya. Tinggal ngajari bapaknya.
Mau bukti? Ini buktinya

Jumlah kata : 500
Tulisan ini dikut sertakan dalam lombanya Uni Dian di sini dan Mbak Tintin.

Yuuuk yang ibu-ibu, calon ibu mapun punya ponakan dan pernah gendong ikutan lombanya masih ada kesempatan sampai ntar malam lho..

NB: Saya sudah luwes khan gendongnya? padahal masih calon ibu

[ Lomba Senyumku Untuk Berbagi ] Senyum Ala Syahrini

Bismillah….

Tahu lomba ini sudah lama dari beberapa postingan temen, berhubung sayanya masih tepar cuma intip-intip doang dan malah bujuk-bujuk suami ikutan. Secara dia dulunya rada susah senyum yang bahagia. Kesannya malah senyum sinis .
Dan lagi meski belum niat 100 % bakal ikutan, saya sudah coba ngubek-ngubek foto senyum sampai mabok, secara kebanyakan foto . Dan lagi sebelum Hani posting lebih dulu, saya akhirnya dapat pilihan foto senyum pas pernikahan.

Kenapa saya memberinya judul begitu? karena selama ini saya jarang sekali senyum yang menampakkan gigi. Lebih seringnya senyum tertutup, karena saya ngerasa senyum yang terbuka begitu kesannya aneh dan garing. baru pas nikahan itu dipaksain fotografernya suruh nyoba senyum nampak gigi dan beginilah hasilnya
Bagi saya, mau senyum seperti apa dan bagaimana. Akan terlihat auranya kalau kita meniatkan senyum dari hati. Dan ini murni mau ikutan lomba di sini ya, gak ada niat MDA lho

Huruf Kapital

Bismillah

A. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai unsur pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus beker keras.
Pekerjaan itu belum selesai.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Kemarin engkau terlambat,” katanya.
“Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan
nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen.
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti
nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertetu, nama instansi, atau
nama tempat.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun ini dia pergi naik haji.

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti
nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau
nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian,
Gubernur Irian Jaya.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman, Halim Perdanakusumah.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
Mesin diesel, 10 volt, 5 ampere

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
Bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
Mengindonesiakan kata asing
Keinggris-inggrisan

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipkai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi
Dieng, Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah
Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung Harapan,
Teluk Benggala, Terusan Suez.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
berlayar ke teluk, mandi di kali, menyeberabangi selat, pergi ke arah tenggara
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republik Indonesia; Majelis Permusyawaratan Rakyat; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak; Keputusan Presiden
Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
Menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Repulik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata
ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan
sapaan.
Misalnya:
Dr. doctor
M.A. master of arts
S.E. sarjana ekonomi
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
Prof. professor
Tn. Tuan
Ny. Nyonya
Sdr. saudara
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak Berangkat?” tanya Harto.
Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
Surat Saudara sudah saya terima.
“Silakan duduk, Dik!” kata Ucok.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kkerabatan
yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita semua harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.

Hasil copas di sini